oleh: Landung Simatupang
Sugeng Dalu Selamat Malam,
Permisi Kula Nuwun,
Ndherek langkung numpang lewat,
Di panggung terhormat
Nylempit thingil-thingil
Di antara pendekar-pendekar heibat minthilihir,
Yang muda, yang tua, yang perempuan, maupun pria
Di hadapan semwa yang hadir, dermawan maupun kikir
hedonis maupun fakir
Bolehkan saya sedikit kojah
Di ulang tahun ini kota
yang oleh banyak orang disebut tercintah
Kojah ini saya haturkan kerna apa?
Kerna saya rasa meski saya orang biasa
Saya ini pun punya sejarah
Dan saya punya sejarah
Terus terang tiada terpisah
Dari ini kota tercintah
E, e, e nuwun sewu, ndherek nepangaken
Kenalkan dulu, nama saya Gandhul
Ya, Gandhul, memang begitu
Asli Yogya, ning dudu Dagadu
Lahir di Yogya, sekolah SR di nDagen sana
SMP-nya di belakang BI itu
SMA di Jalan Solo sebrangnya Graha Bhakti Wanitatama
Lalu kuliah di mBulak Sumur
rampungnya kelewat mulur
Tapi meski Gandhul nama saya
Dan saya kelahiran Yogya
yang sekarang jadi Jogja,
Nama lain masih menguntit,
Nama marga bersima-sima
Kerna ibu saya Jawa Yogya
Tapi lakinya Batak Toba
Nah, dengan ini mulailah kojah saya:
Di awal era yang konon merdeka,
waktu ibu saya dilamar pemuda Toba,
ia berstatus anak tunggal seorang janda
Janda itu anak kesekian seorang abdi dalem
yang mukim di Gedong Tengen
Konon si janda menjanda
Kerna tak sudi diperlakukan seenak lelaki saja
oleh suaminya yang katanya ningrat,
tapi maunya merakyat
padahal feodalnya keliwat-liwat
Si janda hanya bisa membaca aksara Jawa terbata-bata
Tapi tidak mahir menuliskannya
Ia cuma ngerti sedikit-sedikit bahasa Indonesia:
Ia selalu mengatakan Kedung Negara
padahal maksudnya Gedung Negara
Mengucapkan blumbang, ketika yang ia maksud adalah
gelombang radio RRI Yogya yang sering menyiarkan
uyon-uyon manasuka yang memang disuka
Tapi radio akan selalu ia tinggalkan ketika sedang mata brita,
pasti maksudnya Warta Berita
Dan ia lirihkan radio Philips kecil itu manakala terdengar
musik trèk-jing trèk-jing “Orkes Radio Yogyakarta pimpinan Suwandi”
Apalagi bila terdengar lagu seriosa, “Ciii…traaa”.
Itu cuplikan kenangan tentang si janda,
ibu bunda saya, ialah nenek saya
Perempuan bersahaja, tak bisa baca-tulis
selain membaca aksara Jawa terbata-bata
Tapi ia tetap perempuan hebat
Perempuan itu nenek saya,
Dan saya, Gandhul Genteyong, menyebut ia hebat
Kerna, meski ing atasnya
ia seorang Jawa di bawah tempurung,
tak pernah mingset dari Gedong Tengen,
enam puluh tahun silam,
tatkala orang Batak di Yogya masih satu-dua,
ia berani terima lamaran pemuda Toba
yang mau memperistri putri tunggalnya
“Kowe pancen ora saka kene, cah sabrang saka sumantrah; ning anakku wis seneng, tur kowe ki bocah apik. Ya, anakku dak wenehake.”
“Kamu memang tidak dari sini, anak seberang dari Sumatra, tapi anak gadisku sudah suka, apalagi kamu memang anak baik. Ya, kuberikan anakku.”
Maka, dari sejarah keluarga tahulah saya,
keterbukaan dan ketinarbukaan sudah milik rakyat Yogya
sejak sekurangnya enam dasawarsa
Inikah kuncinya maka Yogya mendewasakan para pendatang
yang pada gilirannya membesarkan Yogya?
Perempuan itu nenek saya, Sutimah namanya
Ia tidak bicara bahasa Indonesia,
Tak banyak ngerti konsep tentang ‘bangsa Indonesia’,
‘negara kesatuan kita’, ‘merdeka, merdeka!’
apalagi menguarkannya di mana-mana
Ia sekadar manusia yang memandang manusia
Ia sekadar manusia yang mendengarkan manusia
Manusia yang menghayati inti kemanusiaannya
Sekarang ini, para rawuh kakung miwah putri,
jasad keduanya, nenek saya dari Gedong Tengen
dan ayah saya dari Tarutung, Tapanuli,
sudah kembali menjadi bumi
Kubur mereka berdampingan di Kragilan:
Ayah saya, yang jadi guru SMA di kota ini seumur-umur
Nenek saya, yang membatik dan membatik-ulang
kain-kain bercorak klasik
dan menjualnya di Beringharjo
untuk menghidupi anak tunggalnya dan diri sendiri
yang tak menikah lagi hingga ajal merangkul
Dua kubur berdampingan:
Ayah saya yang doyan musik klasik, sastra Indonesia,
ngajak saya nonton konser, drama Jasso Winarto di PPBI,
dan Mini Kata Bengkel Teater di lantai dua
Gedung Bank Tabungan Negara, sebrang Gramedia;
Nenek saya yang mengajak nonton Wayang Uwong,
Langen Mandra Wanara, mendongengi saya tentang leluhur
yang gemar mocopatan di pendapa begadang
Demikianlah kojah saya, secuplik umlik sejarah saya,
Gandhul Genteyong Simamasima
Sarat dengan kontras, bahkan kontradiksi, itulah akar kami
Dan saya melihat Yogya di sini
Kontras dan kontradiksi
juga jadi kekayaan hakiki kota ini
Bila dalam mengelolanya,
manusia memandang manusia
manusia mendengarkan manusia
manusia menghayati inti kemanusiaannya
Sampun cekap, mangsa borong
Nyuwun pamit, Gandhul Genteyong
(Ditulis dan dibacakan untuk “Parade Puisi Putra Bangsa”, 19 Agustus 2006, Plasa Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta)
GANDHUL GENTEYONG
GANDHUL GENTEYONG
Leave a Reply



No Comment
Be the first to respond!