be4rt
hangripta wedaring pawarta
tan kuwawa mbendung wohing panganggit
manjing mring wana sesamunan
hangudi susuhing pambudi
pangajap mijling sasmita
kadayan karsa wening
mrih padanging kautaman
ninggalake kacumantakan
nyatru karsane kamurkan
lumaksana tan tumapak bantala

Setitik embun:
Walau kadang terwarnai silau dari sinar yang membias dan terhalau puruk dalam tatap nyata, namun kucoba tak meleleh dan hanyut dalam deras arus jarak yang memperjauh raih itu meski terajam beribu bentur,
Aku miskin pola dan tertatih dalam langkah gontai meraihmu
Hingga tak kuasa aku dalam kesendirian tuk ikut bersama dalam peluh desah maya ini, pelan ku padu gejolak yang tertandu raba mengelilingi kekosongan tuk mengais apa itu “ada” dan kucoba tetap berbisik lirih di telingamu:
“indah sayang misteri ini sungguh menantang”
walau tak sepagi fajar, kucoba menetes tuk basahi daunmu dan berharap semoga rentang ini menyublim dan membawa kita dalam kedamaian,semoga juga tak menghanyutkanmu dalam kesesatan imaterial yang bisa mengkandaskan bahtera ini saat berlayar mengarungi mikro dan makro kosmos dalam menghayati makna “ya” yang harus di ejawantahkan dengan “apresiasi”
dan aku cinta kau……
Terlepas dari pendapat Aristoteles dan Socrates, yang pasti selama tiga puluh tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sebagian telah “memahami” etika yang d isebarluaskan melalui sistem politik dan birokrasi. Sebenarnya keadaan semaca m itu tidak akan menjadi masalah selama tidak terjadi eksploitasi terhadap uns ur atau bagian yang lemah dari etika itu sendiri. Hal ini menjadi penting kare na alam etika Jawa terkandung maksud adanya pencapaian hidup yang berhasil dal am arti selalu berusaha mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan.Terlepas dari p endapat Aristoteles dan Socrates, yang pasti selama tiga puluh tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sebagian telah “memahami” etika yang disebarluaskan m elalui sistem politik dan birokrasi. Sebenarnya keadaan semacam itu tidak aka n menjadi masalah selama tidak terjadi eksploitasi terhadap unsur atau bagian yang lemah dari etika itu sendiri. Hal ini menjadi penting karena alam etika J awa terkandung maksud adanya pencapaian hidup yang berhasil dalam arti selalu berusaha mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan.Terlepas dari pendapat Aristot eles dan Socrates, yang pasti selama tiga puluh tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sebagian telah “memahami” etika yang disebarluaskan melalui sistem p olitik dan birokrasi. Sebenarnya keadaan semacam itu tidak akan menjadi masal ah selama tidak terjadi eksploitasi terhadap unsur atau bagian yang lemah dari etika itu sendiri. Hal ini menjadi penting karena alam etika Jawa terkandung maksud adanya pencapaian hidup yang berhasil dalam arti selalu berusaha mewuju dkan harmonisasi dalam kehidupan.Terlepas dari pendapat Aristoteles dan Socrat es, yang pasti selama tiga puluh tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sebag ian telah “memahami” etika yang disebarluaskan melalui sistem politik dan biro krasi. Sebenarnya keadaan semacam itu tidak akan menjadi masalah selama tidak terjadi eksploitasi terhadap unsur atau bagian yang lemah dari etika itu send iri. Hal ini menjadi penting karena alam etika Jawa terkandung maksud adanya p encapaian hidup yang berhasil dalam arti selalu berusaha mewujudkan harmonisas i dalam kehidupan.Terlepas dari pendapat Aristoteles dan Socrates, yang pasti selama tiga puluh tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sebagian telah “mema hami” etika yang disebarluaskan melalui sistem politik dan birokrasi. Sebenar nya keadaan semacam itu tidak akan menjadi masalah selama tidak terjadi eksplo itasi terhadap unsur atau bagian yang lemah dari etika itu sendiri. Hal ini me njadi penting karena alam etika Jawa terkandung maksud adanya pencapaian hidup yang berhasil dalam arti selalu berusaha mewujudkan harmonisasi dalam kehidup an.Terlepas dari pendapat Aristoteles dan Socrates, yang pasti selama tiga pul uh tahun terakhir ini masyarakat Indonesia sebagian telah “memahami” etika yan g disebarluaskan melalui sistem politik dan birokrasi. Sebenarnya keadaan sem acam itu tidak akan menjadi masalah selama tidak terjadi eksploitasi terhadap unsur atau bagian yang lemah dari etika itu sendiri. Hal ini menjadi penting k arena alam etika Jawa terkandung maksud adanya pencapaian hidup yang berhasil dalam arti selalu berusaha mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan.Terlepas dar i pendapat Aristoteles dan Socrates, yang pasti selama tiga puluh tahun terakh |
Dan……,
Dari sini terapung tergambar meski samar dalam sketsa angka-angka, bukan tuk melompat menghapus yakin yang tlah berakar, namun lewat sebuah nampan ini semua tlah termainkan dari awal sebelum kita semua berada di sini tuk mengaku:
“INI MILIKKU…..!” dengan segala kesombongan itu
Namun dalam kenyataan ini pulang kita jauh, tentu kita takut untuk jatuh dan dircerca maki Sang nyata bahwa kita bukan apa-apa dalam raba mereka.
Bergerak mengusik Sang Tanya…..?
Sejenak kita menoleh di cermin belakang,
|

2 Comments
Leave a Reply





May 1st 2011 • 07:05
by Lucilla Landauer
Congratulations, your article was reprinted to Harvard University, visit http://harvard-us.edu.ms
May 2nd 2011 • 05:05
by buy a slush machine
I think youve made some truly interesting points. Not as well many people would actually think about this the way you just did. Im genuinely impressed that theres so considerably about this subject thats been uncovered and you did it so well, with so very much class. Good 1 you, man! Definitely wonderful stuff here.