:: Pameran akan berlangsung dari tanggal 20 April hingga 25 Mei 2012, dari pukul 09.00 hingga 17.00 setiap hari.
:: Pada pameran ini, dr. Oei Hong Djien secara resmi berkenan membuka acara pada hari Jumat, 20 April 2012 pukul 19.00 di North Art Space, Pasar Seni Ancol. (see more for english)
:: Penggalan catatan kurator :
Pameran ini berjudul “Warisan Affandi” atau “Affandi’s Legacy”. Subjudul pameran adalah “Seni Rupa Affandi dan Anak Cucunya”. Sementara anak subjudulnya ialah “Presentasi Affandi, Kartika, Rukmini dan Didit”. Mungkin lantaran berlapis-lapis, pameran ini boleh dikatakan unik, dan harus disebut menarik. Daya tarik pameran ini dimunculkan oleh beberapa hal.
Daya tarik yang pertama tentu karena para pemamer di forum ini memiliki hubungan darah yang amat dekat. Kartika adalah anak tunggal Affandi dari isteri pertamanya, Maryati. Sementara Rukmini adalah anak Affandi dari isteri keduanya, Rubiyem. Sedangkan Didit adalah anak lelaki Kartika dari suami pertamanya, Sapto Hudoyo. Berkumpulnya mereka dalam satu lantai pertemuan mungkin bukan sesuatu yang ganjil bagi keluarga besar yang rukun ini. Namun kehadiran mereka dalam sebuah pameran yang khusus adalah suatu hal istimewa. Mengingat ketiga pelukis ini memiliki kesibukan kesenimanan sendiri-sendiri, dan mempunyai program yang senantiasa terpisah satu sama lain.
Daya tarik kedua adalah, pameran ini memberikan amsal bahwa ada sebuah keluarga yang memiliki passion tiada habisnya atas kegiatan seni rupa. Sepertinya seni rupa adalah pokok kehidupan yang tidak bisa ditawar sama sekali. Seolah seni rupa itu denyut jantung, yang membawa kematian apabila terhenti. Bahkan selebihnya, bagi keluarga ini seni rupa adalah bentuk dari katarsis, atau peluapan tenaga kehidupan. Affandi yang selalu mengaku sebagai “orang biasa dan tidak tahu apa-apa” itu bahkan sering mengutip kata-kata pemikir dan penulis Amerika Dorothy Parker, “Art is form of catharsis.” Ia mengatakan, dengan memposisikan kesenian sebagai bentuk peluapan, kesenian akan memiliki nafas kehidupan amat panjang, tanpa sekalipun berhenti di tepian. Affandi, Kartika, Rukmini dan Didit menuturkan keriuhan peluapan itu lewat seni lukis yang meletup-letup.
Daya tarik yang ketiga adalah, ndilalah gaya lukisan keempat pelukis ini menyajikan benang merah satu sama lain. Meski apabila dicermati semuanya memiliki perbedaan karakter, yang dengan kukuh mengangkat ciri-ciri tersendiri. Para kritikus dan pengamat mengatakan gaya lukisan mereka sebagai realis-ekspresionisme. Ada pula yang menyebut sebagai impresionisme-ekspresif. Ada pula yang menjuluki ekspresionisme-impresif. Hadirnya benang merah pada gaya ini lantas memunculkan kerja kuratorial yang khas : menjelaskan bahwa ternyata ada satu kubah keluarga yang mengikatkan diri pada satu benang-merah gaya. Sehingga pameran pun menawarkan koridor penikmatan yang jelas.
Agus Dermawan T
Affandi’s Legacy
Affandi’s Legacy
Leave a Reply



No Comment
Be the first to respond!