cahaya penderitaan

pencahayaan pada karya senidalam penderitaan kehidupan kita menemukan diri kita sering tertarik oleh ilmu pengetahuan yang belum kita tau, tidak selalu diketahui apakah jawabannya sudah jelas atau misteri.

kemudian kita memutuskan untuk menaruh semua energi melalui pencarian dan tidak dapat menemukan jawaban. kita telah menemukan untuk melukis cahaya, ya, cahaya. hal ini terbawa dari waktu ke waktu hingga detik kehidupan kita.

beberapa waktu terakhir dan dalam perasaan mendalam, mungkin karena lelah dalam beberapa pencarian. cahaya menunjukkan kepada kita jalan yang benar adalah tanpa henti untuk kebenaran itu (mencari), kita harus menginformasikan (more…)

antara fakta dan opini

antara-fakta-dan-opinikadang kita kurang memahami perbedaan antara fakta dan opini. karena kadang kita terlalu lekat pada ide-ide tertentu dan mengolahnya sedemikian rupa untuk menafsirkannya sebagai fakta. Misalnya keindahan seorang wanita, rasa anggur yang enak, dan kualitas buku yang baik, meskipun semua hal ini pada penampilan pertama tampaknya menjadi subjek pendapat dan interpretasi orang akan mengkategorikan ini sebagai “selera” dan label mereka sesuai dan menindaklanjuti dengan mengakomodasinya dengan tindakan dan pikiran dalam bentuk fakta. oleh karena itu, mereka berpendapat dengan istilah “wanita cantik”,   (more…)

ketika bermain dalam ketiadaan yang panjang meniti rel baku
merelakan benak ini di perbudaknya, aku mencengkeram bara
redup berharap diang saat dingin datang menjenguk nanti,

(more…)

Sejenak menoreh asa itu dalam ketiadaan yg teranggap nyata ini,

kutelan gapai yang terlihat dan kuolah sehingga smua terasa
seolah nyaman di benakku disini, saat merindu berada pada
kebisaan yang biasa kalian lewati, meski aku masih gontai
(more…)

kemarin pukul 01:25 WIB 29,07,2009

dini hari itu dingin begitu menusuk dan kadang membuatku menggigil dibuatnya meski berbatang rokok ku hisap tuk menipu rasa itu, dan tak seperti biasanya tiba tiba permataku bangun sepagi itu dengan rengek manjanya memasuki ruanganku sambil memeluk selimut

 

“pak keloni…..” kata anak cantiku jalan mendatangiku,

dengan tangan kanan ku sambut manjanya seraya kupeluk dan ku cium keningnya sekedar memberinya teduh meski dalam hati aku merasa aneh karena tadi kulihat dia sudah lelap bobo di kamar,

“kenapa bangun….?besok sekolah sayang” bisiku di telinganya masih memeluk

“keloni……..” itu saja yang selalu di katanya padaku

sambil berdiri akupun mecoba berdiri dari duduk, tapi mengapa peluk anakku semakin erat hingga ku urungkan dan makin erat lagi ku peluk

“kenapa sayang….ayo bobo di kamar di sini dingin..” ku coba merayunya namun selalu saja gagal

 

dan akhirnya aku mencoba paham kupanjangkan tempat duduku tuk merebahkanya di pangkuanku sampai si cantik ini tertidur, kulanjutkan lagi pandangi monitor ini,

detik berlalu dan suara azan subuhpun mulai terdengar bersautan dari berbagai arah masih saja aku di sini memandang dan membaca, hinga pada menit berikutnya,

 

“tok tok tok….” lirih suara seperti suara pintu depan terdengar di ketuk orang, namun masih saja tidak aku hiraukan sebab tak seperti biasanya tamu berkunjung di rumahku pukul sekian

“tok tok tok….” ufg kali ini agak keras hingga aku memindahkan tidur anaku dari pangkuanku tuk menengok pintu yang ter ketuk.

 

suara petir mendahului kilat menyambar hatiku dan tak kuasa aku tuk bertanya betapa kagetnya aku, ketika ku intip dari jendela disitu berdiri seorang perempuan mengenakan baju hangat dan celana hitam dengan menenteng tas di pundaknya tertunduk menunggu, aku hampir tak percaya kenyataan ini dan segera ku raih kunci tuk membuka pintu karna yang aku lihat adalah istriku yang sekian bulan pergi.

 

“endi anaku…..” seraya dia nyelonong masuk rumah tanpa menunggu aku menyapa,

sementara dia masuk kamar depan tuk mencari anaku,

“bobo no mburi karo aku no ruang tattoo…” aku menjawab sambil menutup pintu,

ku lihat raut hampa itu melewatkanku menuju ruanganku dan memeluk anaku yang masih pulas tertidur, dan tentu saja anaku meronta namun peristiwa itu tak begitu kuhiraukan kenapapun aku tak tau dan blom bisa memahami semua ini,

smentara dia sibuk dengan anaku aku berdiri di pintu memandangi, dan anehnya anaku biasa biasa sja dan terlihat agak cuek dengan kedatangan ibunya saat itu, hingga semua berlalu dan anaku mandi untuk berangkat sekolah.

 

setelah semuanya hening karena istriku belum juga beranjak dari ruanganku aku mencoba mengahampirinya tuk bertanya

“koe no ngendi ae e nduk?” sembari aku duduk di sampingnya menatap kehampaan itu bertanay tanya,

namun tanyaku tak terjawab karena dia hanya tertunduk, dan kutanya lagi kenapa ia diam masih juga tak terjawab dan akhirnya dia memeluku ya hanya peluk akupun tak bisa mengartikan,

waktu pun berjalan diapun mulai ngomong

“mas bebasno aku aku tak nglakoni uripku sing koyo opo uripku” seperti tanpa dosa dan seperti aku tak tau dia sedang menjalin hidup dengan siapa saat ini,

dalam hal ini gantian aku yang terdiam memang aku tak memahami apa maksudnya bukankah dia ibu dari anaku yang dulu mencintai aku hingga mau mendatangiku dari daerah asalnya tuk menikah dengan aku?

 

“lha terus opo koe ora eman karo masa depane anakmu..?” aku bertanya tuk menyakinkan benarkah ucapanya

“ora ngerti aku kudu nglakoni uripku dewe sik marek iki aku kudu bali anake tak gowone yo…” katanya hampa

 

karena menyangkut anak yang aku cintai

“TIDAK..!! langkahi sek mayatku!!” sambil aku melepaskan diri dari peluknya

hingga beberapa saat kami berdebat dan ber karkata kata saling beradu pada akhir kata dia cuma bisa menjawab

“yo mbuh mengko…” kata itu saja yang selalu terucap, dan ketika ku coba bertanya tuk meyelidiki jawaban semua ini aku coba bertanya

“lha koe iseh cinta aku opo ora nduk..?” sambil aku mendongakkan kepalanya tuk bisa memandangku, namun tiada jawaban kata dia hanya memeluku dan menangis yang membuat aku semakin tak tau apa arti semua ini.

 

waktu dan peristiwa berjalan bersama kenyataan dan kami sempat juga berbagi kerinduan (sensor)

namun arti besar bagiku itu bagai sebuah kisah semu saja di prinsipnya, pada dasarnya dia tetap harus pergi lagi meski aku mencoba memberi keyakinan tentang kelanggengan rumah tangga kami, yang aku tak mengerti kadang ia menyetujui dan patuh namun beberapa saat dia diam dan linglung dia segera memandngku dan menangis “mas aku kudu bali”

 

karna aq semakin bingung menhadapi semua ini harus bagaimana, karna di situ pc masih nyala aq segera sign in d lareosin.org dan menuliskan di chat box satu kalimat “istriku pulang dan ….” apalagi lupa trus sing out lagi

sementara beberapa teman di Y!M menyarankan untuk menahan dia dulu di rumah aku mencoba menenangkanya dan dia sempat tertidur

 

namun yang terjadi setelah dia bangun dan anaku telah pulang sekolah terjadilah drama tangisnya meronta sambil memeluk anaku erat bahkan sempat aku mencoba memlepaskan pelukan itu karena terlalu kencang, aku takut anaku sesak

ronta itu semakin keras dan dia bertanya kepada anaku

“dik chita nderek bapak opa nderek ibu…?” tanyanya dalam tangis

“chita pingin sekolah…..chita pingin pinter…..chita nderek bapak…..” tangis anak kecilku di peluk erat ibunya yang semakin keras ketika mendengar jawaban puteriku

“wis uwis…” sambil aku meraih mereka untuk saling duduk di posisinya masing masing karna aku di bingungkan sebuah kenyataan yang janggal

 

karena dalam hal ini aku duduk sebagai bapak rumah tangga dan suami dari isteri ku (dalam status hukum) aku mencoba mencoba mengklarifikasi

“wis saiki ngene yen koe pancen kudu lungo, elingo menowo aku ora membuangmu (menceraikan)..”kata ini terucap sadar di depan anak dan istriku

“menowo koe bakal urip karo wong liyo aku ora bakal ngeculke yen wong kui ora gelem njupuk koe dewe secara hukum yang berlaku no negoro iki” itu karena aku tak mau bila mereka hidup dalam pelarian dan akan di anggap zinna

“yo coba mengko” jawabnya masih dalam tangis

 

karena aku tak tahan aku meminta istriku untuk menelpon orang lain itu, untuk privasinya aku mencoba untuk  tak mendengarkanya, dan setelah dia menelpon dia hanya bicara

“yo aku no kene demi anaku” sambil tertunduk dalam tangisnya

“yo wis saiki aku pengin telpon karo wong kui” karena aku harus menegahi mereka karna aku suami yang sah menurut undang undang

dan akupun sempat bicara dengan oran lain itu dan mengatakan padanya bahwa dia harus iklas dan mau melepaskan istriku tuk kembali bersamaku dan sempat aku bicara

“terima kasih telah menemani istriku saat dia pergi dariku” dan ini jujur meski di hati @#*(*^&%#$!#@(_)

dan orang lain itupun menghiyakan….

 

karna aku menganggap semua usai kami mencoba saling berjanji dan selanjutnya, selanjutnya (sensor)

hingga dia tertidur lagi beberapa saat aku menjalankan aktifitas lagi

beberapa orang datang ke rumahku untuk memesan sesuatu, karena pesananya harus mengambil sesuatu yang gede dan melebihi quota billingku aku harus ke warnet, maka ku suruh orang itu kembali lagi nanti sore habis magrib,..dan aku kembali lagi ke istriku untuk pamit ke warnet sambil memesan dia untuk tenang dan meninggalinya kasih (sensor)

 

beberapa menit aku di warnet dengan hati yang selalu ingat rumah ku tunggu unduhanku begitu lama dan selalu ingat rumah namun usai juga dan pulang waktu itu 16:53.WIB aku masih ingat benar.

kusandarkan motorku di depan rumah karna tadi ada janji mau menghantar anak kami jalan jalan keluar,akupun masuk rumah, baru kaki ini mengijak lantai pintu anak cantiku lari keluar dan bilang

“pak ibu pun wangsul malih….”kata anaku datar2 saja

“hah………..” akupun tak percaya dan segera mencoba menayakan jam kepergianya untuk melacaknya namun tak ketemu juga.

 

dalam hal ini aku tak tau betul apa arti kisah ini, yang aneh sekarang hatiku tak seperti kemarin saat pertama kehilanganya dan anaku pun terlihat biasa biasa saja seperti tak pernah ada peristiwa apapun hari ini,

dalam hati aku coba mengerti dalam otak aku memaki

yach beginilah…………

 

 

 

semua kisah di semua postingku nyata bukan fiksi aku hanya mencoba berbagi cerita