Serat Chenthini ditulis oleh Susuhunan Paku Buana V ini mempunyai 8 jilid yang isinya masalah Agama, ilmu karawitan, tari, hari baik, tembang, dan cerita petualangan . tertulis ketika beliau masih bergelar Pangeran pati di kasunanan Surakarta hadiningrat, Dan penata tulisanya yaitu R.Ng.Yasadipura II dan Rangga Trana
Dan ringkasan serat ini didasari riwayat perjalanan putra-putri Sunan Giri sesudah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Cerita di mulai setelah tiga dari putra Sunan Giri menyebar meninggalkan tanah kelahiranya untuk mengembara, karna kekuwasaan Sunan Giri sudah kalahkan oleh Mataram.
Yaitu Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri yang bernama Ken Rancangkapti. Jayengresmi di ikuti oleh dua santri yang bernama Gathak dan Gathuk, menjalani perjalanan spiritual di seputar kerajaan Majapahit, Blitar, wana Lodhaya, Gamprang, Tuban, Bojonegoro, wana Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, peninggalan kerajaan Pajajaran, Gunung Salak, sehingga sampai di Karang.
Di dalam perjalanan ini, Jayengresmi menjalani pendewasaan spiritual, karna pertemuan pada para guru, tokoh-tokoh gaib Di dalam mitos Jawa kuno, dan para juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Di dalam pertemuan pada tokoh-tokoh ini, dia belajar ilmu masalah segala ilmu Di dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk membuat kain lurik, pilihan waktu berhubungan sex, perhitungan tanggal, hingga di riwayat Syekh Siti Jenar.
Pengalaman dan meningkatnya kebijakan ini sehingga menjadikan beliau di sebut Seh (Syekh) Amongraga. Di dalam perjalanan disebut, Syekh Amongraga bertemu pada Ni Ken Tambangraras yang dados garwanipun, juga mbok embanipun Ni Centhini, yang juga ikut mendengarkan wejangan-wejanganipun. Jayengsari dan Rancangkapti diikuti santri yang benama Buras, petualangannya di Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, ereng-ereng Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai Sokayasa di ereng-ereng Gunung Bisma Banyumas.
Di dalam perjalanan ini beliau berdua mendapat ilmu masalah budaya tanah Jawa, syariat para nabi, riwayat Sri Sadana, ilmu wudhu, shalat, ilmu dzat Allah, sifat dan asma-NYA (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, juga perwatakan Pandawa dan Kurawa. sesudah dengan petualangannya yang menghabiskan waktu bertahun-tahun, yang terakhir ketiga putra Sunan Giri tersebut bisa bertemu lagi dan berkumpul bersama para keluarga dan kerabatnya, Walaupun ini tidak berjalan lama karna Syekh Amongraga (Jayengresmi) sehingga meneruskan perjalanan spiritualnya menuju drajat yang lebih tinggi lagi, yaitu menhadap kepada Gusti Allah.
tulisan ini terrangkum dari berbagai sumber.
Ringkasan Centhini
Ringkasan Centhini
Leave a Reply



No Comment
Be the first to respond!