Apresiasi Festival Apeman di Malioboro
Istilah “apresiasi seni” adalah salah satu yang terdengar cukup sering. Tapi bagaimana seseorang “meng apresiasi” seni? Untuk meng Apresiasi Festival Apeman di Malioboro, bagaimana seseorang mengapresiasi opera atau peristiwa seni itu sendiri? Kebanyakan orang akan mampu mengenali keindahan yang melekat pada bentuk-bentuk seni bahkan jika mereka tidak memiliki pengetahuan yang mendalam sekalipun. Tetapi dengan pemahaman yang lebih dalam dari pemahaman apresiasi seni di Festival apeman malioboro, semakin Anda menikmati dari bentuk-bentuk seni hingga dapat memaksimalkan pemahaman seni rupa yang berbeda meski perbedaan itu sangat umum dan sangat mungkin bila kita bergerak didalamnya karena disini saia hanya mencoba mengambil kesan Festival apeman malioboro dari mata saia saja.
di mulai dari undangan Sindu Cutter untuk datang di acara Festival apeman di malioboro, dan tentunya pada sesi seni rupa hari ke 3 dimana di Festival apeman malioboro diadakan sket bersama mulai jam 3 sore sampai selesai. saia datang agak terlambat karena malamnya kesegaran tiga huruf dari bekonang yang kini menggantikan keplok bawah kretek kewek yang dulu sering menemani, membuat saia rada2 lemot namun cukup membuat saia hangat dan mulai akrab dengan kenangan2lama di sana.
dan bukan itu saja, kegiatan kesenian yang tentu saja sangat akrab dengan kehidupan para penghuni malioboro masih terasa kental dengan kenaturalan berkesenian layaknya malioboro masa lalu ketika saia masih menghuninya, masih ada Petrus dengan yoooooooog…….!! nya, banyak sekali teman saia lupa namanya namun keakrapan itu membuat saia mepertakpentingkan apa itu nama, yang saia ingat hanya teriakan MC yang berkata ini kampung malioboro kita……..!!!!
memang Festival apeman malioboro cukup lapang untuk berapresiasi dalam jenis seni apapun namun cukup membawa kesan romantisme dimana seorang anak yang dulu sering menemani saia dengan kotak semirnya kini sudah bisa membawakan lagu senior2nya untuk diteriakan di lombok nusa dua (lagu itu dari mata dan telinga saia memang dari malioboro), dan kehangatan itu begitu asli dan masih asli seperti mereka waktu itu yang bersebutan tekyan, sebuah persahabatan yang tak terlepas meski kepala telah terkontaminasi berbagai peristiwa dan cairan yang mengaliri tenggorokan kami namun di Festival apeman malioboro ini kami bisa berkumpul dan mengenang meski cuma 3 hari 3 malam dalam kehangatan itu.
kemudian prakata yang sempat saia kopi dari Apresiasi Festival Apeman di Malioboro:
Agenda kita bersama jelas pada alinea IV pembukaan UUD 1945,yang secara kultural tidak lain ialah menyiapkan indonnesia sebagai “Taman Sari(nya)” Dunia.Itulah komunitas lebah dengan sarangnya yang tinggi,makanan sari-sarinya bunga,pembagian kerja yang terperinci,serta markasnya hexagonal.Bagaimana halnya dengan pancasila – Philosophy of islam, misalnya ? Disitu ayat-ayat Ilahi dijadikan “kacamata” baca kejadian,sehingga hasilnya justru penemuan-penemuan ilmiah.Bagaimana ketika filasafat pancasila sudah bulat(pancasila-philosophy of Indonesia) ?.
Negara republik Indonesia itu bukan negara agama,tetapi juga bukan negara sekuler,Republik Indonesia itu negara berKetuhanan Yang maha Esa.Karenanya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sangat sentral,sehingga “aliran kepercayaan” dari hulu ke hilir harus mbanyu-mili,lestari ke laut luas tanpa batas.
Penjumlahan,perkalian,pemangkatan,berapapun,betapapun tidak akan pernah mencapai Infinitum/lambang Ilahi.Satu-satunya jalan ilahiah “pembagian 0/nol”.
Dalam hal logika himpunan,berlakulah rumus SP,artinya Subyel Ilahi selalu melebihi predikat;kalau lautan sebagai “Tinta” dan “Tangkai tetumbuhan” sebagai batang penanya, maka semua fenomena belum akan mampu memuat keluasan ilmunya.Beberapa contah kenyataan sehari-hari yang kurang diperhatikan;”Titik” itu tidak ada, kecuali dalam rangka “garis”.”Garis” itu tidak ada, kecuali dalam rangka “Ruang dan Waktu”. “Waktu” itu tidak ada,kecuali dalam firman Tuhan Yang Maha Esa.
Hulu-hilir/Hilir mudik kehidupan
Tesis utama keTuhanan Yang Maha Esa ialah bahwa: Tuhan itu ESa.Berbahagialah bangsa yang percaya kepadaTuhan Yang Maha Esa.Kepercayaan itu penting sebagai landasan kehidupan bersama horizontal-vertikal.
Satu-satunya jalan ialah istiqomah(pembagian nol) berapapun satuan terminal eksistensial,manakala dibagi nol,hasilnya jutru Infinitum/tak terhingga.Pembagian Nol itu Nafi total;Infinitu iu isbat total.
Itulah kesaksian Udheng-Mudhengnya Sami-Aji,Raja tanpa mahkota,yang darah seluruh tubuhnya putih dalam arti tidak punya rasa punya’Ning-Na sejatine ora ana apa-apa kajaba kang kandha inilah laku Murwakandha, sekaligus Murwa-kala.
Bilangan berapapun kali nol adalah nol,bilangan berapapun pangkat nol adalah satu.Bilangan berapaun dibagi nol adalah Infinitum.Itulah REVOLUSI SPIRITUAL (SUMURUPA BYARE)
Prof.Dr.Damarjati Supadjar
setidaknya pada Apresiasi Festival Apeman di Malioboro saia bisa belajar tentang estetika dan filsafat seni

Note





Apem Malioboro 2011; seni untuk masyarakat umum..